Palu (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menggandeng Provinsi Sichuan (Tiongkok) untuk membangun kawasan industri pertanian dan perkebunan yang produknya untuk ekspor.
"Sudah saatnya komoditas pertanian menembus pasar global, maka skema industrialisasi berbasis pertanian merupakan langkah konkret dilakukan pemerintah daerah (pemda)," kata Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid saat menerima delegasi Provinsi Sichuan di Palu, Sabtu.
Ia mengemukakan, industrialisasi pertanian dan perkebunan menjadi model pertumbuhan ekonomi baru di Sulteng, karena di dalamnya menyangkut juga menyangkut penguatan rantai pasok, peningkatan nilai tambah komoditas unggulan seperti durian, kakao dan kopi yang diarahkan untuk ekspor langsung ke pasar Tiongkok.
Sehingga, kata dia, kerja sama ini bukan sekadar transaksi komoditas, melainkan integrasi kawasan industri di dua negara.
"Kami ingin industrialisasi hasil pertanian, salah satunya durian supaya memberi nilai tambah dan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Jadi di Sulteng ada kawasan industri pertanian dan perkebunan, begitu pun di Sichuan supaya tumbuh bersama sebagai 'sister province',” ujarnya.
Konektivitas antara kawasan industri di Sulteng dan kawasan industri di Sichuan akan menjadi fondasi kuat kerja sama jangka panjang Indonesia-Tiongkok di level daerah.
Menurut dia, Sulteng memiliki posisi strategis sebagai jalur pengiriman langsung komoditas ekspor menuju Tiongkok sehingga rencana investasi pembangunan gudang pendingin atau "cold storage" oleh mitra dari Sichuan menjadi prioritas awal.
"'Cold storage" bukan hanya untuk penyimpanan. Ini bisa berkembang menjadi pusat industri pengolahan durian dan komoditas pertanian lainnya.
"Fasilitas tersebut direncanakan dapat dikembangkan di kawasan industri Palu maupun kawasan industri Siniu Kabupaten Parigi Moutong sebagai kawasan industri hijau," katanya.
Melalui dukungan sistem logistik modern dan "warehousing" dari Sichuan, Sulteng diharapkan mampu membangun ekosistem hilirisasi mulai dari pembekuan (freeze storage), "freeze drying", hingga pengolahan lanjutan kakao dan kopi.
Ia memaparkan, potensi durian Sulteng khususnya berasal dari Parigi Moutong terus menunjukkan tren positif, pada Januari 2026 Sulteng telah mengirim tiga kali durian segar ke Tiongkok dengan nilai ekspor mencapai 1 juta Dolar AS atau setara Rp16 miliar.
“Kami ingin wilayah barat Sulteng juga maju, terutama di sektor pertanian. Saya minta seluruh perangkat daerah segera menindaklanjuti kerja sama ini," kata dia.
Sementara itu delegasi Sichuan, Miss Zheng Shan-shan mengatakan, pihaknya melihat Sulteng sebagai mitra strategis dengan potensi bahan baku besar dan berkelanjutan.
Ia menegaskan perusahaan-perusahaan di Sichuan memiliki pengalaman dalam teknologi pengolahan pangan lanjutan seperti "freeze drying", ekstraksi tanaman maupun pengolahan kakao dan kopi.
Pihaknya sangat tertarik dengan pengembangan industri berbasis pertanian. Indonesia, khususnya Sulawesi Tengah memiliki potensi bahan baku yang sangat besar.
"Tahap awal kami ingin memastikan kawasan industri dua negara ini berjalan baik sebelum masuk pada investasi yang lebih spesifik,” katanya.